Halaman

Jumat, 11 Januari 2013

Definisi Strategi Belajar Mengajar


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pada zaman modern sekarang ini, masalah pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Abad mendatang merupakan suatu tantangan bagi generasi yang akan datang. Terutama bagi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional dan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Di dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan seorang pendidik yang berkualitas sehingga dalam pola pembelajaran yang diajarkan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan seorang pendidik yang mampu berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi generasi yang kita harapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa. Untuk itu, guru tidak hanya cukup menyampaikan materi pelajaran semata, akan tetapi guru juga harus pandai menciptakan suasana belajar yang baik, serta juga mempertimbangkan pemakaian metode dan strategi dalam mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan sesuai pula dengan keadaan anak didik. Keberadaan guru dan siswa merupakan dua faktor yang sangat penting di mana diantara keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan mengajar guru, karena dalam proses pembelajaran guru tetap mempunyai suatu peran yang penting dalam memberikan suatu ilmu kepada anak didiknya.
Salah satu masalah yang dihadapi guru dalam menyelenggarakan pelajaran adalah bagaimana menimbulkan aktifitas dan keaktifan dalam diri siswa untuk dapat belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa.
1
Salah satu cara untuk menimbulkan aktifitas belajar siswa adalah dengan merubah kegiatan-kegiatan belajar yang monoton. Di samping itu, motivasi merupakan salah satu factor yang turut menentukan keefektifan proses balajar mengajar. Callahan dan clark mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah satu tujuan tertentu.
Motivasi belajar memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar. Sehingga siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi akan mempunyai semangat yang besar untuk melaksanakan kegiatan belajar tersebut. Oleh karena itu, motivasi belajar yang ada pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian Strategi Belajar Mengajar?
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Strategi Belajar Mengajar?

C.     BATASAN MASALAH

Sangatlah penting bagi penulis dalam membatasi masalah untuk membuat pembaca mudah memahaminya. Penulis hanya membahas apa yang dimaksud dengan Strategi Belajar Mengajar dan factor-faktor yang mempengaruhi Strategi Belajar Mengajar.


















2
                                                       BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Strategi menurut New Vebster Dictionary diartikan sebagai “cara-cara melaksanakan proyek = cara dalam mencapai suatu tujuan = metode dan juga diartikan sebagai rencana (plan).
Adapun pengertian yang dimaksud dalam kerangka ini adalah sebagai berikut:
Proses belajar adalah proses yang di alami secara langsung dan aktif oleh siswa pada saat mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dan disajikan di sekolah baik yang terjadi di kelas maupun di luar kelas.
Proses mengajar adalah proses yang dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan peranannya dalam proses kegiatan belajar mengajar yang telah direncanakan. Sedang strategi belajar mengajar adalah pengertian yang menunjuk pada interaksi belajar mengajar yang direncanakan  secara strategis untuk mencapai tujuan pendidikan secara tepat guna (effisien) dan berhasil guna(efektif).
Di dalam sejarah dunia pendidikan guru merupakan sosok figur teladan bagi siswa/i yang harus memiliki strategi dan teknik-teknik dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sistem intruksional merupakan interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya, dan guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran agar lebih aktif dan efektif secara optimal. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode mengajar. Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau insturktur kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran itu dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Di dalam kenyatan cara atau metode mengajar atau teknik penyajian yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi atau message lisan kepada siswa, berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap.


3
Maka, yang disebut dengan strategi belajar mengajar ialah memikirkan dan mengupayakan konsistansi aspek-aspek komponen pembentuk kegiatan sistem intruksional dengan siasat tertentu.
 Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru – anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan mempelajari Strategi Belajar Mengajar berarti setiap guru  mulai memasuki suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dgn memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pembelajaran. Sehingga bahan pelajaran yg disampaikan guru dapat difahami dan diaplikasikan siswa dengan tuntas.

B.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Belajar Mengajar
                                                                                            
            Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi belajar mengajar diantaranya: tujuan,bahan pelejaran, alat dan sumber, siswa dan guru
1.      Tujuan
a.       Mencoba membuat metode dan cara belajar mengajar yang lebih profesional sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih aktif dan efektif.
b.      Menghasilkan Pelajar yang mampu mengangkat harkat dan martabat Bangsa Indonesia
2.      Bahan pelajaran
Dari segi bahan pelajaran hal-hal yang perlu diperhatikan dalam strategi belajar mengajar adalah:
a.       TIK( Tujuan Instruksional Khusu), jenis konsep, atau isi pelajaran dan bahan uraian lainnya hendaknya memenuhi kebutuhan, minat, kemampuan, persoalan dan bersifat multidimensional
b.      Isi bahan pelajaran hendaknya cukup jelas dan dalam jangkauuan kemampuan siswa.


4
c.       Dalam suatu bahan pelajaran hendaknya membuka kesempatan untuk pengembangan lebih lanjut baik dari konsep maupun kegiatan ( baik oleh siswa maupun guru bersama siswa)
3.      Alat dan Sumber
Dari faktor alat dan sumber yang perlu dipertimbangkan ialah:
a.       Jumlah dan karakteristik alat pelajaran dan alat peraga.
b.      Jumlah dan karakteristik sumber pelajaran (bahan cetakan dan lingkungan sekitar).
4.      Siswa
Yang perlu dipertimbangkan dari faktor siswa di dalam menggunakan strategi belajar-mengajar, antara lain:
                                     a.      Siswa sebagai pribadi tersendiri memiliki perbedaan-perbedaan dari siswa lain.
                                    b.      Jumlah siswa yang mengikuti pelajaran.
                                     c.      Keaktifan dalam diri siswa untuk dapat belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa.
                                    d.      Motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keefektifan proses balajar mengajar. Motivasi belajar memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar. Sehingga siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi akan mempunyai semangat yang besar untuk melaksanakan kegiatan belajar tersebut. Oleh karena itu, motivasi belajar yang ada pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
5.      Guru
Dari faktor guru yang akan mempengaruhi penggunaan strategi belajar-mengajar ialah
                                     a.      Kemampuan menguasai bahan pelajaran dan kemampuan membelajarkan siswa.
                                    b.      Dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan seorang pendidik yang mampu berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi generasi yang kita harapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa.

5
                                     c.      Guru tidak hanya cukup menyampaikan materi pelajaran semata, akan tetapi guru juga harus pandai menciptakan suasana belajar yang baik, serta juga mempertimbangkan pemakaian metode dan strategi dalam mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan sesuai pula dengan keadaan anak didik.






















6
  BAB III
  PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Berdasarkan Makalah ini penulis dapat memberi kesimpulan, bahwa pentingnya Sistem dan Strategi Belajar Mengajar itu untuk membangun, mendidik dan menciptakan anak didik yang memiliki potensi dan pola pikir yang baik dan positif. Sebab bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang guru yang profesional dan menjalankan tugas pangilanya untuk memberikan apa yang telah diketahui kepada siswa/i di kelas. Tanggung jawab dalam melayani siswa/i adalah besar dan itu yang menentukan arah pendidikan suatu bangsa. Bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang dibutuhkan melainkan harus pandai dalam menyampaikan kepada peserta didik dengan metode-metode, teknik-teknik dan strategi yang bijaksana agar proses belajar mengajar itu tidak monoton dan menyenakan bagi siswa/i serta mudah dicerna dan di pahami.
B.      SARAN
                                                                                   
Penulis menyarankan agar di dalam melakukan tugas panggilan sebagai seorang pelayan siswa/i atau sering kita katakan guru haruslah cerdas dalam Intelektual, Emosional dan Spiritual agar proses belajar mengajar itu berjalan dengan lancar. Pandai dalam menggunakan waktu, dapat membedakan kepentingan pribadi dengan kepentingan pendidikan. Sebab kita sebagai calon/guru sebagai alat untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik dari pada kita saat sekarang ini, untuk mereka di masa yang akan datang.


7
DAFTAR PUSTAKA

Soemarsono, 2007. “ Strategi Belajar Mengajar “. Surakarta :UNS Press


Pendidikan Intuitif







BAB 1
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Keberhasilan seorang guru dalam mengajar sangat tergantung pada pendekatan serta metode yang digunakan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang guru diantaranya adalah Pendekatan intuitif, yaitu suatu bentuk pemecahan masalah dalam mengajar atau proses belajar mengajar dengan menggunakan bisikan atau gerakan hati untuk mengerti dan mengetahui sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu yang biasanya berbentuk permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan intuitif merupakan sebuah bentuk lain dari pendekatan induktif. Dalam cara intuitif contoh-contoh yang diberikan biasanya berbentuk permainan, keadaan, atau persoalan sehari-hari yang menarik yang memuat konsep matematika yang akan diajarkan. Selain itu metode yang efektif dan efisien juga sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Metode yang efektif merupakan cara mengajar atau proses belajar mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Semakin memuaskan hasil proses belajar mengajar semakin efektif metode tersebut. Metode yang efisien merupakan penerapan metode dalam menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga yang kecil, usaha yang minimum, pengeluaran yang sedikit dan waktu yang tidak lama.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah yang dimaksud dengan Pendekatan Intuitif?
2.    Apakah yang dimaksud dengan Metode yang Efektif dan Efisien?
3.    Sebutkan Klasifikasi Pertanyaan dalam bidang Afektif?
4.    Apakah yang dimaksud dengan Pertanyaan Memusat?

C.   Batasan Masalah
Sangatlah penting bagi penulis dalam membatasi masalah untuk membuat pembaca mudah memahaminya. Penulis hanya membahas tentang Pendekatan Intuitif, Metode yang efektif dan efisien, Klasifikasi pertanyaan Dalam Bidang Afektif serta Pertanyaan Memusat berdasarkan buku panduan.


1

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pendekatan Intuitif
Selain dari penalaran induktif dan deduktif, ada lagi kegiatan berpikir lain yang dinamakan berpikir intuitif.Intuitif dalam bahasa indonesia berarti intuisi. Intuitif itu berdasarkan dengan intuisi yang berarti bisikan atau gerakan hati untuk mengerti dan mengetahui sesuatu tanpa berpikir. Maka, Pendekatan intuitif adalah suatu bentuk pemecahan masalah dalam mengajar atau proses belajar mengajar dengan menggunakan bisikan atau gerakan hati untuk mengerti dan mengetahui sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu yang biasanya berbentuk permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan intuitif merupakan sebuah bentuk lain dari pendekatan induktif. Pengajaran matematika dengan pendekatan intuitif dan induktif hanya berbeda dalam contoh-contohnya.Dalam cara intuitif contoh-contoh yang diberikan biasanya berbentuk permainan, keadaan, atau persoalan sehari-hari yang menarik yang memuat konsep matematika yang akan diajarkan. Intuitif berasal dari kata intuisi (gerak hati), yang artinya memperoleh jawaban berdasarkan keterangan yang sangat terbatas. Intuisi merupakan sumber pengetahuan seperti halnya akal dan pengalaman.. Kekuatan pendekatan ini adalah lebih menarik minat belajar murid karena diperkenalkan melalui contoh-contoh keadaan sehari-hari dalam kehidupannya. Kelemahan pendekatan ini adalah lebih banyak menyita waktu.
Contoh pendekatan intuitif misalnya anak kembar.Pada hari ulang tahun yang ke 9, dua anak kembar Dida dan Dodi menerima hadiah uang dari bibinya. Dida diberi Rp.7.000,- dan Dodi Rp.1.000,-. Tentu saja Dodi merasa tak senang.Dihampirilah bibinya sambil melakukan protes.
“ Bibi sama sayang kepada Dodi dan Dida.tetapi pembagian hadiah diatur menurut kemauan bibi sendiri.pada ulang tahunmu yang ke 9 ini Dida diberi Rp.7.000,- dan Dodi Rp.1.000,- . Pada ulang tahunmu yang ke sepuluh nanti, Dida akan diberi Rp.6.000,- dan Dodi Rp.2.000,-. Demikian seterusnya, tiap tahun hadiah untuk Dida berkurang Rp.1.000,- sedang untuk Dodi bertambah Rp.1.000,- hingga ulang tahunnya yang ke 15. Sesuai dengan rencana bibi itu, berapa yang akan diterima kedua anak kembar itu pada hari ulang tahunnya yang ke11, ke12, ke 13, ke 14 dan ke 15?.

2

Sesuai dengan rencana bibi itu, berapa yang akan diterima kedua anak kembar itu pada hari ulang tahunnya yang ke11, ke12, ke 13, ke 14 dan ke 15?.
Berapa jumlah uang hadiah seluruhnya yang harus diberikan bibi sampai ulang tahun anak kembar yang ke 15?.
Berapa jumlah hadiah yang diterima oleh kedua anak masing-masing sampai ulang tahun yang ke 15?.Tentukan jumlah 7 ribu yang pertama.
Tiap urutan bilangan itu mempunyai bilangan pertama.Jika sebuah bilangan dari urutan itu diketahui, bilangan berikutnya dapat ditentukan dengan menambah sebuah bilangan tetap tertentu.Bilangan tetap itu bisa positif, nol dan negatif. Jumlah urutan bilangan tersebut di sebut dengan deret aritmatika.
Konsep deret aritmatika diperoleh murid secara intuitif melalui penalaran induktif. Sesudah membahas contoh dan melakukan serangkaian kegiatan baru diberikan konsep deret aritmatika.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa mengulang pengalaman serupa.
Kebenaran yang diperoleh dengan pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan kebenaran macam ini.
Meskipun validitas intuitisi diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pendekatan intuitif, yaitu:
1. Faktor guru
Seorang siswa tidak akan berpikir intuitif bila mereka tidak pernah melihat bagaimana gurunya berpikir intuitif.
2. Penguasaan bahan
Siswa yang menguasai bidang ilmu tertentu akan lebih sering berpikir intuitif dibandingkan dengan siswa yang tidak menguasainya.
3. Struktur pengetahuan
Memahami struktur atau seluk-beluk suatu bidang ilmu memberi kemungkinan yang lebih  besar untuk berpikir intuitif. Dalam aritmatika misalnya, siswa ditekankan agar terampil dalam penggunaan operasi bilangan.

3
4. Struktur pengetahuan
Memahami struktur atau seluk-beluk suatu bidang ilmu memberi kemungkinan yang lebih  besar untuk berpikir intuitif. Dalam aritmatika misalnya, siswa ditekankan agar terampil dalam penggunaan operasi bilangan.
5. Prosedur heuristik
Prosedur heuristik yaitu menemukan jawaban dengan cara yang tidak ketat, misalnya menganjurkan siswa untuk menemukan jawaban atas masalah yang sulit dengan berpikir secara analogi, berdasarkan simetri atau dengan membuat diagram.
6. Menerka
Siswa diberi kebebasan untuk dapat menerka pemecahan suatu masalah, agar mengembangkan kretivitas mereka. Menghukum siswa yang meneerka jawaban akan menghalangi untuk berpikir produktif dan kreatif.
Ciri-ciri siswa yang berpikir intuitif:
a.  Langsung menemukan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi secara sistematis.
b.  Cenderung untuk memecahkan suatu soal dengan jalan coba-coba (trial-and-error)
c.  Mudah melompat-lompat dari cara penyelesaian yang satu ke penyelesaian yang lain.
d.  Memperhatikan keseluruhan masalah.
e.  Mempercayai “hunches” atau petunjuk perasaan.
f.   Mempertahankan jawabannya atas dasar cocoknya jawaban itu dengan hal-hal yang lain, jadi tidak berdasarkan metode yang digunakan.

B.   Metode yang Efektif dan Efisien
1.    Efektif
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien.

4
Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.
Metode yang efektif merupakan cara mengajar atau proses belajar mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Semakin memuaskan hasil proses belajar mengajar semakin efektif metode tersebut.
2.    Efisien
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya.
Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal. Strategi ini lebih tepat karena guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga.Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.



5
C.   Klasifikasi Pertanyaan dalam Bidang Afektif
Ranah sikap (afektif) dikembangkan oleh Krathwohl, Bloom, dan Masia (1964). Dikemukakan ada lima klasifikasi ranah sikap, dan tiap klasifikasi dibagi lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih khusus. Kelima klasifikasi utama tersebut adalah:
1.  Penerimaan
        Ranah ini berkaitan dengan keinginan siswa untuk terbuka (peka) pada rangsangan atau pesan-pesan yang berasal dari lingkungannya.Pada tingkat ini muncul keinginan menerima rangsangan, atau paling tidak siswa menyadari bahwa rangsangan itu ada.
2.  Merespon
        Pada tingkat ini muncul keinginan untuk melakukan tindakan sebagai respon pada perangsang.Tindakan-tindakan ini dapat disertai dengan perasaan puas dan nikmat.
3.  Menghargai
        Individu yang sudah secara konsisten dan berhasil menampilkan suatu nilai, pada suatu saat akan menghadapi situasi di mana lebih dari satu nilai yang bisa ditampilkan. Bila ini terjadi, maka individu akan mulai ingin menata nilai-nilai itu ke dalam suatu sistem nilai, menentukan keterkaitan antar nilai, dan menetapkan nilai mana yang paling dominan.
4.  Mengorganisasi
        Memotivasi siswa untuk menata bagian-bagian yang ada ke dalam suatu sistem, menentukan keterkaitan antar bagian, dan menetapkan bagian mana yang paling dominan.
5.  Bertindak konsisten
        Ini adalah tingkat tertinggi dari ranah sikap. Di mana individu akan berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dijunjungnya.
Maka, pertanyaan pada bidang afektif meliputi pertanyaan pada tiap aspek klasifikasi tersebut, yakni:
1.  Pertanyaan Aspek Penerimaan
        Pertanyaan yang berupaya memancing keinginan siswa untuk terbuka (peka) pada rangsangan atau pesan-pesan yang berasal dari lingkungannya.Pada tingkat ini, guru berupaya memunculkan keinginan siswa untuk menerima rangsangan, ataupaling tidak siswa diupayakan menyadari bahwa rangsangan itu ada.
6

2.  Pertanyaan Aspek Merespon
        Pertanyaan yang diajukan harusmemunculkan keinginan siswa untuk melakukan tindakan sebagai respon pada perangsang.
3.  Pertanyaan Aspek Menghargai
        Pertanyaan pada tingkat ini diupayakan dapat memberikan rasa puas dan nikmat ketika melakukan respon pada rangsangan, menyebabkan individu ingin secara konsisten menampilkan tindakan itu dalam situasi yang serupa.
4.  Pertanyaan Aspek Mengorganisasi
        Pertanyaan yangdiajukan hendaknya memotivasi siswauntuk menata bagian-bagian yang ada ke dalam suatu sistem, menentukan keterkaitan antar bagian, dan menetapkan bagian mana yang paling dominan.
5.  Pertanyaan Aspek Bertindak Konsisten
        Pertanyaan yang diajukan harus menguji apakah siswa berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dijunjungnya.

D.   Pertanyaan Memusat
Pertanyaan sempit memusat (focusing question) adalah pertanyaan yang  menuntut agar siswa dapat mengembangkan ide atau jawabannya dengan cara menuntunnya melalui petunjuk tertentu. Pertanyaan jenis ini bermanfaat bila guru menghendaki agar siswa dapat membedakan, mengasosiasikan, menjelaskan, membuktikan suatu kasus/masalah yang diberikan.
Contoh: 
1.   Dengan cara yang bagaimana sehingga konsep jaring-jaring makanan mudah dimengerti oleh siswa?
2.   Bagaimana cara membuktikan teorema Pythagoras?
3.   Bagaimana membuktikan bahwa hasil senyawa basa dengan asam menghasilkan garam & air?
4.   Bagaimana dapat dibuktikan bahwa dalam proses fotosintesis menghasilkan tepung?






7
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Dari berbagai uraian diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa Pendekatan intuitif adalah suatu bentuk pemecahan masalah dalam mengajar atau proses belajar mengajar dengan menggunakan bisikan atau gerakan hati untuk mengerti dan mengetahui sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu yang biasanya berbentuk permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan pendekatan ini adalah lebih menarik minat belajar murid karena diperkenalkan melalui contoh-contoh keadaan sehari-hari dalam kehidupannya. Kelemahan pendekatan ini adalah lebih banyak menyita waktu.  Sedangkan Metode yang efektif merupakan cara mengajar atau proses belajar mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan, semakin memuaskan hasil proses belajar mengajar semakin efektif metode tersebut dan metode yang efisien merupakan penerapan metode dalam menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga yang kecil, usaha yang minimum, pengeluaran yang sedikit dan waktu yang tidak lama.
B.   Saran
Dari uraian-uraian diatas Penulis dapat menyarankan bahwa dalam rangka mempermudah penguasaan materi oleh para siswa,guru diharapkan dapat menggunakan metode-metode yang efektif dan efisien yang tepat dalam pengajaran matematika, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Untuk menghindari kebosanan siswa dalam mempelajari matematika, guru diharapkan dapat memilih, menguasai dan menggunakan metode, serta pendekatan  yang tepat terhadap suatu materi.









8
DAFTAR PUSTAKA

Krathwohl, D. R. ed. et al. 1964, Taxonomy of Educational Objectives: Handbook II, Affective Domain. New York: David McKay.
Soemarsono, 2007.“ Strategi Belajar Mengajar”. Surakarta : UNS Press
















9